Balada Djokdja [Part 2]

Scroll this

WARNING: EXPLICIT CONTENT

Inilah bagian kedua dari catper (mungkin) terjorok yang pernah saya tulis. Ada banyak penggunaan kata ‘toilet’ dan teman-temannya di sini. Jika anda termasuk orang yang tak tegaan, lebih baik SKIP saja tulisan ini. Seriously!

H A R I  H+1

Pukul 8:00 masih di hotel. Saya masih royal buang-buang air, tapi setidaknya sekarang sudah bisa menghabiskan setengah porsi sarapan (nasi goreng berminyak).

Yen & Eby, kekawan kami lainnya yang sedang berada di Yogya, menyempatkan diri datang ke wisma. Semestinya kami sudah berangkat pagi-pagi sekali karena hendak menyusuri koridor pantai selatan sepanjang Ngobaran-Ngerehan-Baron-Kukup-Krakal-Wediombo. Namun setelah beberapa pertimbangan, akhirnya kami berenam memutuskan untuk berwisata jarak dekat saja. Sementara Yen & Eby tetap berangkat sesuai rencana semula.

Pukul 10:00 kami tiba di Taman Sari. Situs ini dahulu adalah tempat tetirah/pemandian kaum bangsawan. Banyak spot cantik disini, lokasinya pun unik karena membaur dengan perumahan penduduk. Jangan bayangkan perkampungan kumuh ibukota, karena perkampungan disini sungguhlah apik, resik, dan sangat kental akan nuansa tradisional. Saya sampai mengkhayal punya saudara/teman yang tinggal di sini, jadi kelak saya bisa menginap di lingkungan yang asri tsb.

Jogja Taman Sari village

Oya, di kampung ini ada juga toilet umum yang uniknya dinamai: Toilet Kejujuran *suara Doraemon* Mungkin maksudnya siapapun yang memakai toilet tsb, harus jujur memasukkan toilet fee ke dalam kotak sumbangan (karena tiada seorang pun yang mengawasi).

Sayangnya saya malah lupa menyumbang sepeser pun, padahal saya juga sempat ‘menandai tempat’ di dalam toilet tsb. Kronologisnya kira-kira begini:
‘bocor di celana’ –> buang-buang dulu sisanya –> bersih-bersih kemudian tanpa sabun (untung bawa celana dalam cadangan)
Akibatnya begitu keluar toilet saya langsung buru-buru nyari sabun slash cairan antiseptik buat bebersih ulang. Sampai lupa harus setor kepada ‘toilet kejujuran’.
Toilet rate: **
toilet basah dengan suasana agak remang, tiada sabun apalagi odol dan sampo (emang mau numpang mandi? hehehe!)

Pukul 11:30 kami singgah makan siang di kedai gudeg Yu Djum, di jalan Wijilan. Sayangnya sudah banyak menu yang habis. Memang pembeli harus datang sejak pagi jika ingin menikmati menu komplet. Tapi tak apa, walaupun hanya bisa mencicipi nasi gudeg telor, namun kami bisa merasakan sendiri gurih nikmatnya racikan Yu Djum yang terkenal itu. Saya sendiri masih belum sanggup menghabiskan satu porsi, perut masih sedikit mual dengan makanan berbumbu.

Dari Wijilan kami mengarah ke Malioboro karena hendak bertemu dengan teman-teman Yogya dan sekitarnya: Moy, Nung, Mima.
Sambil menunggu kedatangan mereka, kami sempatkan diri berburu batik di Mirota dan sekitarnya. Saya sendiri tak sempat membeli apa-apa karena urusan perut memanggil *diam-diam mengendap ke toilet Mirota*
Toilet rate: ***
semestinya toilet duduk itu berlantai kering, namun entah kenapa di sini lantainya basah semua, bahkan hingga ke dudukan toiletnya (ough!); namun di sisi lain washtafelnya lumayan, ada bebungaan dan aromaterapi

Kemudian kami bertemu dengan Moy cs di depan benteng Vredeburg. Saya sih kepingin berkunjung ke dalam museumnya, namun karena keterbatasan waktu akhirnya kami putuskan langsung meluncur ke arah kidul.

Jogja Parang Kusumo

Pukul 14:30 iringan kendaraan memasuki pantai sunyi Parang Kusumo. Wilayah ini terkenal dengan bukit-bukit pasirnya. Kami langsung menunjuk-nunjuk beberapa spot yang sekiranya menarik untuk dijadikan setting pemotretan. Saya sendiri dalam hati tulus berdoa semoga saya tidak harus buang air di salah satu gundukan pasir tsb.

Tiba di pantai, Cit dan Pit langsung ganti kostum. Usai bermain air sejenak, kami berniat hendak berfoto-foto di bukit-bukit pasir tadi. Tapi apa daya, hujan tiba-tiba turun deras. Akhirnya diputuskan untuk langsung meluncur menuju lokasi berikutnya, candi Ratu Boko. Kami pun membuntuti Mima yang menyetir kendaraannya dengan kecepatan maksimal, bagai orang kebelet hendak buang air (yeah right, perumpamaan yang cerdas! ;p).

Sekitar pukul 17 akhirnya tibalah kami di komplek candi Ratu Boko. Moy cs pasti kaget melihat kami turun dari mobil sudah dengan kostum batik. Hahaha, sebagai model dunia maya profesional, kami memang sudah membiasakan diri tuk berganti kostum di dalam mobil yang sedang berjalan sekalipun *gaya jaya*. Saya sendiri meminjam kemeja batik hasil belanjaan Yud tadi siang.

Candi Ratu Boko terletak di puncak bukit, dan ini menjadikannya lokasi eksotis buat menangkap momen matahari terbit ataupun tenggelam. Sayangnya saat itu cuaca sedang mendung sehingga nuansa langit jingga kemerahan tak hadir di sana. Kasihan sih para fotografer lain yang sudah siap sedia dengan perlengkapan tempur masing-masing, mereka terpaksa pulang dengan memori hampa.
Kami? Ya foto-foto aja terus, gak peduli langit jingga atau abu-abu 🙂

Jogja Ratu Boko

Turun dari candi, tiba saatnya bagi saya tuk menyepi di toilet. Untung terdapat deretan toilet yang rapi dan bersih sehingga kegiatan saya di kubikel itu bisa berjalan aman tentram.
Toilet rate: ****
masih satu level di bawah toilet umum Borobudur, namun tetap saya suka kebersihannya

Moy cs berbaik hati mengantarkan kami hingga tujuan berikutnya, yaitu candi Prambanan. Setelah itu mereka pamit karena masih ada urusan lain. Kami sendiri berniat makan malam di sini, gala dinner ala buffet. Terbayang suasana makan malam nan cantik berlatar belakang candi Prambanan berhias tata cahaya megah.

Sayangnya, meja terbaik di sana sudah fully-booked, sedangkan duduk di lokasi outdoor tak memungkinkan karena gerimis menderas. Dengan berat hati kami pun berpindah haluan. Bisik punya bisik, akhirnya kami memutuskan tuk menyusul Moy cs kembali ke kota. Mereka tengah makan malam di restoran Phuket di jalan HOS Cokroaminoto.

Di sinilah saya menemukan aneka hidangan ala Thai yang demikian menggugah selera. Aneh sih, jauh-jauh ke Yogya malah makan masakan Thai. Tapi inilah kali pertama semenjak liburan di Yogya, saya SANGGUP menghabiskan menu yang terhidang. Syukurlah, itu tandanya kondisi tubuh saya sudah mulai membaik.

Habis makan, kami harus berpisah dengan Moy cs karena mereka harus kembali ke Magelang. Iseng, kami malah membuntuti mobil mereka. Niatnya ingin tahu dimanakah gerangan Mima turun (karena cuma ia sendiri yang tinggal di Yogya), terus mau dadah-dadah sama target. Eh, malah ketahuan! Hehehe, ya sudahlah, di sisi lain kami malah menemukan NAV karaoke (lupa nama jalannya) dan langsung memutuskan berolah vokal di sana.

Sudah tengah malam ketika kami kemudian menyambangi Prada, sebuah kedai lesehan di Malioboro. Saya pesan telor setengah matang dan indomie rebus pake irisan cabe rawit (sudah lupa sama diare). Untunglah setelah kembali ke penginapan di Sosrowijayan perut saya baik-baik saja. Ah, senangnya bisa rebahan dengan tenang…

Jogja Taman Sari gate

 

H A R I  H+2

Ini adalah hari terakhir kami di Yogya. Pukul 8:00 utusan rental mobil datang tuk mengambil ‘kereta kencana’ kami. Tunai sudah tugas mulia janji bakti saya sebagai sopir 🙂

Pukul 9 lewat kami berjalan sehat menuju pasar Beringharjo, demi mengemban misi mulia: berburu oleh-oleh ;p Naas, baru saja sampai di ujung jalan Sosrowijayan, perut saya tiba-tiba mulas lagi. Langsung cari toilet terdekat, untung ada McDonald’s, jadi saya bisa numpang buang air di sana.
Toilet rate: **
Faktor kenyamanan : mungkin saya pengunjung toilet pertama di pagi itu, jadi toiletnya masih kering dan bersih

Beruntung selama kunjungan di Beringharjo, perut saya sudah adem ayem. Kami sempat berpencar karena punya sasaran yang berbeda-beda.

Jelang tengah hari, Cit, Pit, dan Yud harus pamit karena jadwal penerbangan mereka pulang ke Jakarta lebih awal. Sementara saya, Man, dan Yin meneruskan kegiatan sakral di Beringharjo. Makan siang dihelat di antara jajaran mbok-mbok penjual pecel yang banyak mangkal di depan pasar. Menunya nasi pecel, tempe bacem, perkedel jagung, dan burung dara goreng. Manis, gurih, murah meriah.

Saya juga menyempatkan diri singgah ke Mirota. Apalagi kalau bukan ‘menandai tempat’ tuk terakhir kalinya. Di dalam toilet saya agak sedih karena plesiran kami sudah resmi berakhir. Tapi juga agak senang karena feses yang keluar kali ini sudah jauh lebih normal dibanding kemarin. Istilah kata, sudah lebih berbentuk *dibahas*

Sekembali ke hotel, kami pun dijemput oleh Yen & Eby. Sore itu juga kami sudah standby di bandara, siap diterbangkan pulang kembali ke Jakarta. Plesiran singkat ini, walau terganggu oleh ritual bolak-balik toilet, tak membuat saya hilang kebahagiaan. Hikmahnya adalah: saya jadi tahu fasilitas toilet umum di Yogya masih jauh lebih bersih dan lebih baik daripada di ibukota *nyindir bandara Soetta*

Saya juga betah di sini. Masih banyak tempat yang harus dikunjungi, masih banyak kuliner yang harus dicicipi, masih banyak teman yang harus ditemui. Selamat tinggal Yogya, kelak saya kan kembali, tanpa diare!

28 Comments

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.