3 Atraksi Seni Budaya Kerala nan Magis & Eksotis

JAUH masa sebelum Kerala Blog Express diselenggarakan, saya sudah pernah terpana pada foto face painting yang menggunakan warna kontras menyala dan motif bak topeng dalam kisah dongeng. Di kemudian hari saya baru tahu jika itu adalah ritual kathakali, salah satu atraksi seni budaya Kerala, yang bukan hanya face painting belaka tapi juga meliputi kostum rumit (terdiri atas 21 bagian dengan total panjang kain sekitar 50 meter), tarian ekspresi, dan musik perkusi.

Maka syukur tak terhingga tatkala saya diberi kesempatan bertandang ke tanah Hindustan bagian selatan, dan menyaksikan sendiri seni budaya Kerala yang memesona. Mari kita mulai dengan yang satu ini…

kathakali

Kathakali

Ialah drama tari klasik Kerala yang punya ciri khas kostum & tata rias atraktif, disertai gestur, mimik muka, dan gerak mata yang rumit. Pertunjukan kathakali biasanya diiringi nyanyian dan tetabuhan sementara sang artis utama sama sekali tak mengeluarkan suara selain melakukan gerak-gerik tangan seperti pantomim dan bermain ekspresi wajah terutama gerak mata.

Butuh waktu hingga 12 tahun untuk bisa menguasai koreografi dan gestur kathakali, termasuk yang paling sulit adalah menguasai gerak mata. Semua karakter kathakali diambil dari epos Ramayana dan Mahabharata. Itulah mengapa butuh waktu lama untuk mempelajari kathakali dimana tiap seniman harus mahir memainkan setiap karakter. Hari ini dia menjadi Rama, besok mungkin Sita, dan hari lain sebagai Rahwana. Oh, sudah lazim jika pertunjukan kathakali memang didominasi oleh pria hingga mereka pun harus piawai memerankan tokoh wanita. Termasuk menggunakan tata rias sendiri.

Penasaran dimana artis kathakali menuntut ilmu? Silakan baca: Mengintip Sekolah Seni Kerala Kalamandalam

seni budaya kerala kathakali make up seni budaya kerala kathakali screen

Proses seorang seniman kathakali melukis wajahnya sendiri hingga menjadi salah satu karakter kathakali lengkap dengan kostum extravaganza-nya adalah atraksi menarik. Bahkan proses ini lazim dilakukan on stage hingga semua wisatawan bisa menyaksikan langsung tanpa harus berkerumun di belakang panggung. Setelah tata rias dan kostum selesai, dua orang kru akan membentangkan kain di panggung sebagai pertanda pertunjukan akan segera dimulai.

Saya menyaksikan pementasan kathakali ini di hotel Vivanta by Taj – Malabar, Kochi. Sebagai penonton pemula, jujur saya agak sulit menangkap apa maksud lakon yang sedang dipentaskan selain kagum dengan ragam gestur dan ekspresi wajah yang ditampilkan. Jangankan saya, banyak kaum muda Kerala yang tak paham dengan alur cerita kathakali yang kadang berjalan lambat. Tapi di sisi lain saya sungguh menghargai dedikasi para seniman kathakali pada atraksi seni budaya Kerala ini.

seni budaya kathakali performance

Jika dahulu pementasan kathakali bisa memakan waktu semalam suntuk (tak ubahnya pementasan wayang kulit di Jawa), kini durasinya sudah dipersingkat hanya 1-2 jam saja. Tapi ada satu pertunjukan seni budaya Kerala lainnya yang bikin mata saya melek dan jantung berdebar kencang karena nuansa magis yang kuat. Bahkan inginnya pertunjukan ini lebih lama lagi dipentaskan…

theyyam

Theyyam

Ialah drama tari yang diiringi hentakan musik chenda (semacam perkusi dari silinder kayu/bambu). Sama seperti kathalaki, theyyam juga memakai kostum & tata rias atraktif. Hanya saja pertunjukan seni budaya Kerala yang satu ini bersifat lebih magis (cenderung mistis) karena disertai unsur api & gumam mantra. Pada awalnya (sekitar 800 tahun silam di Malabar, Kerala) theyyam memang dipertunjukkan sebagai ritual penyembahan dewa-dewa.

Persiapan seniman theyyam mulai dari memakai tata rias hingga mengenakan kostum pun menjadi atraksi menarik tersendiri. Seperti kathakali, theyyam pun tak lepas dengan make-up tebal, topeng besar, dan kostum megah untuk penampilan dramatis & spektakuler. Warna dominan biasanya merah, dengan dress terbuat dari pelepah daun nyiur. Jangan kira hanya dengan melihat sekali maka sudah cukup. Tahukah kamu, theyyam terbagi atas banyak jenis (sekitar 400 lebih!), dengan gaya, musik, koreografi, tata rias, kostum berbeda satu sama lain. Sepertinya tiap seniman/sanggar tiap daerah punya spesialisasinya tersendiri.

theyyam make up theyyam putting on costume

Adapun theyyam yang kami saksikan di Vythiri Village, Wayanad, di utara Kerala ini tampaknya lebih bersifat tribal ketimbang festival. Sosoknya lebih ‘primitif’ ketimbang megah. Tapi kesan ‘mistis’-nya malah lebih terasa. Terdengar bunyi ‘srek-srek’ dari gesekan pelepah nyiur tiap dia bergerak. Para pemusik chenda memulai pertunjukan dengan ketukan ritmis yang makin lama makin cepat. Sang theyyam mulai menghentak-hentakkan kaki. Terdengar ‘cring-cring’ nyaring dari gelang kaki. Seorang pendeta mulai menyalakan obor-obor yang terpasang pada dress yang dikenakan theyyam.

Theyyam mulai berputar, melompat, menghentakkan kaki, sambil menyerukan mantra. Kobaran api berputar mengelilingi dengan bara terpercik. Makin lama hentakan chenda semakin cepat. Theyyam makin cepat berputar. Bara api berloncatan. Theyyam terus melakukan ritualnya selama setengah jam lebih hingga saya percaya jika ia setengah kesurupan.

Tiba-tiba tetabuhan perkusi serentak berhenti. Yang terdengar hanya deru nafas memburu sang theyyam. Pertunjukan telah berakhir. Kami semua masih terpaku. Larut dalam pesona sang dewa.

theyyam fire dancetheyyam blessing

Tradisi selanjunya ialah theyyam memberikan berkat kepada para penonton. Keunikan theyyam adalah biasanya ia dimainkan oleh orang-orang dari kasta rendah, namun penonton dari kasta yang lebih tinggi seperti Brahmana-pun datang menghadap dan membungkukkan badan untuk mendapat berkat dari sang theyyam. Tapi saya tidak ikut menghadap, bukan karena merasa lebih tinggi derajat, tapi saya takut ia masih dirasuki roh, selain itu hal ini bertentangan dengan kepercayaan yang saya anut.

Tapi untuk atraksi selanjutnya di bawah ini saya malah penasaran ingin mempelajarinya…

kalaripayattu

Kalaripayattu

Ialah seni bela diri tertua dan terlengkap di dunia (konon ilmu kungfu pun adalah turunan dari kalaripayattu). Seni bela diri ini meliputi di antaranya kekuatan kaki, tangan kosong, senjata khas, ritual meditasi, hingga ilmu syaraf. Dibutuhkan waktu dan pengabdian minimal selama 9 tahun untuk mempelajari dasar kalaripayattu. Bayangkan, sembilan tahun untuk memahami konsep dasar saja.

Kami beruntung dapat menyaksikan atraksi kalaripayattu di sebuah pulau di tengah sungai, tepat di seberang komplek Sargaalaya, distrik Calicut, Kerala bagian utara. Atraksi pembuka mempertunjukkan tendangan kaki hingga ke atas kepala, bagai split dalam posisi berdiri tegak. Disusul pertarungan tangan kosong yang lebih banyak menunjukkan fleksibilitas kaki (misalnya melompat sambil menendang di udara). Sungguh memukau.

Atraksi dengan senjata diperagakan oleh para senior. Salah satu senjata yang memukau saya adalah urumi, sejenis pedang panjang logam (sekitar 1.5 m) yang lentur dan bisa dililit bagai ikat pinggang. Urumi sangat efektif dalam melucuti senjata lawan, bahkan dapat menghabisi sekelompok penyerang sekaligus. Pedang panjang ini menghasilkan suara ‘woot woot’ yang menakutkan ketika logam tipis itu berputar-putar membelah udara. Melihatnya saja sudah cukup mengintimidasi, apalagi jika harus harus bertempur menghadapinya.

kalaripayattu stick fightkalaripayattu freehand fight

Sayangnya tidak dipertunjukkan aksi melumpuhkan lawan dengan kekuatan jari tangan alias totok syaraf. Tentu saja ini bukanlah tontonan. Seorang master kalaripayattu bernama Suresan Nambiar sempat mengungkapkan pada majalah Forbes India bahwa sesungguhnya terdapat 108 titik kelemahan tubuh manusia, dimana beberapa di antaranya berhubungan dengan hidup mati seseorang. Hanya kepada murid paling terpercayalah seorang guru kalaripayattu akan menurunkan ajaran ‘totok syaraf” ini karena kemampuan tsb sungguh berbahaya jika dimiliki oleh orang yang salah.

Ketika ditanya oleh Forbes India apakah ia dapat memecahkan balok es dengan tangan kosong untuk menakuti lawan, Suresan berseloroh: “Untuk apa dilakukan jika saya dapat menghabisi nyawa hanya dengan jari tangan?”

Sungguh jari jemari yang digdaya. Kalah netizen.

kalaripayattu warrior kalaripayattu sword fight

Seni budaya Kerala memang bukan hanya kathakali, theyyam, atau kalaripayattu saja, tapi masih banyak lainnya. Tiga ini saya pilih karena sudah pernah saya saksikan sendiri dan jadi favorit. Kalau kamu bagaimana, mana atraksi yang paling bikin penasaran?

Disgiovery yours!

Catatan: Foto cover milik Kerala Tourism, menampilkan sosok theyyam yang lebih megah dan spektakuler. Must watch it next time!

10 Responses
  1. Dari tiga atraksi budaya yang ditampilkan dalam tulisan Ini Saja, sudah menggambarkan keagungan budaya yang hidup di Kerala, ya Kak Gio. Hebat benar Kerala blog Express ini, gara-gara programnya, saya membaca lebih banyak tentang tempat itu selalu merasa sedikit tahu. Pengen suatu saat datang ke sana 🙂

    1. Yes, inisiatif yang hebat dari Kerala Tourism, meski Indonesia juga sudah bikin dengan Trip of Wonders (meski beda format). Aamiin moga suatu saat bisa kunjungan ke Kerala ya mbak! Atau mau coba peruntungan ikutan daftar Kerala Blog Express? 🙂

  2. Mauu… ke sana buat beli hiasan kepalanya. Unyu buat hiasan dinding. Baru tahu nama tariannya kathakali padahal pernah beberapa kali lihat foto dan videonya. Tampilan blognya baru atau aku yang lama ga mampir? Kece lo.

Leave a Reply