Disgiovery at Alila Solo | Stay Like A Royal

ALILA Solo menjadi tempat persinggahan kami saat mendampingi para influencer Trip of Wonders 2017 di kota Solo, Jawa Tengah. Kalau ditanya kenapa Alila maka jawabannya kenapa tidak? (tanggapan nyebelin, hahaha!). Tentulah kami harus menyediakan fasilitas terbaik sekaligus punya sentuhan budaya lokal bagi tamu-tamu negara ini.

Alila Solo First Impression

Dari kejauhan gedung Alila Solo tampak sudah menjulang tinggi sendirian di lanskap kota. Kesan megah dan mewah hotel ini bahkan sudah terpancar sejak dari luar. Beberapa dari kami langsung mengeluarkan kamera.

Lobi hotel yang sejuk tampak impresif dengan instalasi karya seni berupa kain batik yang membentang panjang di langit-langit dari ujung ke ujung (saya lupa tanya apakah itu berbahan kain atau bukan). Sebuah bola kayu raksasa terletak di tengah lobi bagai menyambut tamu yang baru masuk. Meja resesionis berhias gunungan wayang besar sebagai simbol kehidupan. Lantai marmer tampak berkilauan, menampakkan reflesi kaca lobi. Staf hotel yang menyambut kami tampak ramah dan bersahaja, tak ada kesan manis berlebih.

alila solo hotel
Photo courtesy of Alila Solo

Hotel Room Experience

Deluxe Room di Alila Solo punya luas kamar mencapai 40 m2. Sudah sangat leluasa untuk ruang tidur berkapasitas 2 orang. Warna cokelat teduh dan turunannya tampak mendominasi seisi kamar dengan tata cahaya lembut berpendar menjadikan kamar tampak nyaman sekaligus elegan. Lukisan wayang kulit yang menyatu dengan kepala ranjang cukup menunjukkan unsur tradisional dalam kamar bernuansa modern.

Kelengkapan kamar sepertinya tak perlu dijabarkan lagi, sebagai hotel bintang 5 tentunya Alila Solo sudah memenuhi semua standar kelayakan. Koneksi Wi-Fi tentu bebas dan cepat, ditunjang soket listrik internasional yang berlimpah di beberapa sudut kamar. Sebuah TV LCD 48 inci siap menayangkan hiburan, meski pada prakteknya tak sempat saya sentuh.

Matras King Koil adalah standar kenyamanan ranjang di Alila Solo. Sebuah sofa empuk terdapat di sisi ranjang, saya malah banyak menghabiskan waktu di sini duduk menghadap laptop sambil sesekali menatap kenangan kerlap-kerlip kota Solo dari balik jendela.

alila solo twin bed
Kamar bernuansa elegan dengan padanan warna cokelat dan turunannya
alila solo workdesk
Meja kerja dengan sentuhan minimalis, like it!
alila solo bedroom
Such a comfort you can’t get out of – photo courtesy of David Pinto

Bathroom Experience

Kamar mandi bernuansa marmer dari dinding hingga lantai bilik mandi. Sebenarnya saya kuatir lantainya akan licin jika sedang bermandi sabun, tapi untunglah yang dikuatirkan tak terjadi. Yang unik terdapat sebuah sitting bench marmer di dalam bilik mandi sehingga tamu bisa mandi pancuran sambil duduk (atau duduk sambil mandi, atau duduk sambil… ehm, melihat-lihat pemandangan kota ;)). Toiletries tentunya tersedia lengkap dengan kemasan eksklusif berwarna hitam.

Dalam bilik mandi terdapat jendela kaca yang berdimensi cukup besar dan lebar yang memperlihatkan pemandangan kota. Meskipun kamar saya terletak di lantai tinggi, yang mana walaupun saya mondar-mandir di bilik mandi pun belum tentu bakal terlihat oleh orang-orang di bawah sana, namun tetap saja sungkan membiarkan jendela kaca ini tak tertutup. Bisa saja ada orang lagi iseng main drone, lalu malah syuting adegan saya mandi, hahaha! Bisa hancur nama baik Dilan!

What’s Special in Alila Solo

Agra Rooftop Bar

Jam buka: 5 sore hingga larut malam. Dress code: smart (dilarang bercelana pendek, berkaus buntung, dan bersandal jepit). Beberapa di antara kami yang merasa penampilan sungguh jauh dari norma-norma kebangsawanan menanggapinya dengan serius sehingga saya sempat mengantarkan beberapa orang berbelanja pakaian baru di Solo Square.  Untung lokasi mall ini tak jauh dari hotel Alila Solo, bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau naik becak.

Suasana petang jelang matahari terbenam menjadi view andalan di Agra Rooftop Bar ini. Lanskap kota Solo tampak kerlap-kerlip berlatar siluet gunung Merapi & Merbabu. Mangkuk langit bernuansa jingga lembayung di ufuk barat. Kami memilih berkumpul di lounge terbuka sembari menikmati aneka makanan ringan dan minuman diiringi alunan musik eklektik. Sayangnya setelah gelap datang, penerangan menjadi terlalu remang khususnya bagi mata silindris saya. Belum lagi minuman yang dihidangkan bercampur baur antara yang mengandung alkohol dan tidak. Tebak-tebak buah manggis jadinya. Beruntung saya mendapat sajian rasa buah yang menyegarkan. Hmm, tapi kenapa ada aftertaste pahit ya…

Jangan-jangan jamu sambiloto, hahaha!

alila solo sunset view
Suasana petang kota Solo dilihat dari Agra Rooftop Bar
alila solo
Tanpa sengaja komposisi foto ini terdiri atas teman-teman dari berbagai negara & ras, isn’t it nice?
alila solo
Our light bites presented by Agra Rooftop Bar – photo courtesy of David Pinto

Wine & Dine at Épice Restaurant

Jam buka: 6 pagi hingga 11 malam. Restoran berkapasitas maksimal 160 orang ini punya partisi serba geometris yang bisa membahagiakan para pengidap OCD. Nuansa ruangan berwarna tanah dan logam, dengan dekorasi ukiran & print etnik. Resto tempat sarapan hingga makan malam ini menyajikan menu lokal hingga internasional. Kualitas rasa tentu tak perlu dipertanyakan. Untuk menu ala carte bisa coba tongseng kambing Solo dan ginger top (paduan tebu, wortel, jeruk, dan jahe) yang cocok untuk menyamankan ‘panas’ kambing.

alila solo epice restaurant

alila solo breakfast
Jajanan pasar tradisional X menu sarapan lokal ala hotel bintang 5. Ada yang tahu nama-namanya? Semua saya suka! 😉

Largo Pool & Alila Spa

Jam buka kolam renang: 10 pagi hingga 10 malam. Kolam renang luar ruang berbentuk persegi panjang dengan layanan butler dari Largo yang siap menyajikan kudapan ringan dan minuman segar. Karena satu dan lain hal, saya malah lupa mengambil gambar di sini. Tapi saya tahu kolam renang ini termasuk fasilitas spesial Alila Solo.

Jam buka spa: 9 pagi hingga 9 malam. Pilihan kamar single atau double (untuk pasangan), hingga lounge terpisah untuk pria dan wanita dengan fasilitas mandi kolam, sauna, dan steam. Lorong antara lounge dengan kamar spa sungguhlah fotogenik karena struktur geometris dan permainan tata cahaya membuat kita seakan berjalan di pesawat luar angkasa (kalau kata teman saya berasa jalan di catwalk). Bisa ditebak, satu persatu kami bergantian difoto di spot ini, hahaha!

What’s Special Nearby

Wedangan Kebon Koelon

Honorable mention, karena jadi favorit saya dan teman-teman Trip of Wonders. Wedangan ini semacam angkringan, namun bukan warung tenda melainkan sebuah halaman luas dengan pondok-pondok bernuansa Jawa tradisional, mulai dari bentuk bangunan, dekorasi interior/eksterior, hingga ragam menu yang dihidangkan. Hanya berjarak beberapa ratus meter dari hotel Alila Solo, di sinilah kami menghabiskan sisa malam sambil mabuk-mabuk minum-minum. Iya, minum wedang, hahaha!

Saya pilih wedangan yang terdiri atas campuran jahe, kencur, jeruk nipis, madu. Rasanya bikin bahagia, segar dan hangat apalagi saya pencinta kencur. Teman saya dari Tiongkok malah memborong wedang uwuh dalam kemasan yang tinggal diseduh nanti. Sementara makanan yang terhidang tak jauh beda dengan menu angkringan, kami pilih semua satu-satu dan membiarkan teman-teman kami mencicipinya. They liked it so much!

wedangan kebon koelon

Alila Solo
Jl. Slamet Riyadi No. 562, Solo, Jawa Tengah
Telp: +62 271 677 0888
Klik tautan website resmi Alila Solo

 

Disgiovery yours!

*cover photo courtesy of Nacho Aznar

8 Responses
  1. Alila Solo ini konsepnya hotel moderen namun disentuh aur tradisional. Dekorasi ruang takan membuat tamu kehilangan rasa tempat, very Solo. Sesuai banget lah dengankelasnya Alila selama ini 🙂

Leave a Reply