Aceh Blogger Gathering 2015 | Sekilas Kisah

Aceh Blogger Gathering 2015disgiovery.id

ACEH Blogger Gathering 2015 diadakan di Greenland Jantho, Aceh Besar. Acara perdana yang dihelat oleh Aceh Blogger Community dan Disbudpar Aceh ini turut serta mengundang pembicara dari luar Aceh.  Saya salah satunya.  Kala itu belumlah lepas lelah saya dari Indonesia timur, lalu ada jemputan menuju barat. Tapi inilah satu kesempatan mulia yang tak boleh tersia-sia.

Oh, saya tahu betul pasti bakal ada saja komentar nyinyir di media sosial mengenai keikutsertaan saya. Terutama karena saya belum pernah berkunjung ke Aceh, pun belum pernah menulis tentangnya. Tapi saya tahu pasti pihak panitia #AcehBloggerGathering tentu sudah punya pertimbangan tersendiri sebelum memutuskan untuk mengundang saya.  Lagipula kapasitas saya adalah berbagi ilmu fotografi perjalanan, sementara ilmu penulisan sudah diwakilkan oleh Olive, putri Toraja yang berjiwa Aceh.

Maka, menapaklah kaki kami di barat.

Dengan perut keroncongan.

Seorang rocker berambut gimbal tanpa diduga bermurah hati membelikan kami roti hangat bercitarasa kopi.  Rocker itu pun sesama tamu undangan #AcehBloggerGathering (silakan dinyinyiri kenapa dia bisa diundang), dan ternyata kami sama-sama satu penerbangan dari Jakarta.  Juga ada Mirza, tamu undangan lain yang ikut numpak pesawat yang sama sejak transit di Medan.

Raju, liaison officer kamilah yang mempertemukan semuanya. Ia menyambut dengan hangat. “Sudah sarap–”

“BELUMMMM!”

Sebelum para tamu undangan benar-benar menjadi ‘sarap’, akhirnya Raju mendamparkan kami di kedai kopi Solong – Ulee Kareng untuk sarapan.  Nasi perang (atau bu prang) jadi santapan. Dibungkus dalam daun pisang, nasi yang porsinya hampir mirip dengan nasi kucing ala Jogja ini sudah ditemani lauk ikan atau telur dalam bungkusannya.

Secangkir kopi sanger panas alias kopi susu ala Aceh jadi pendamping. Sebagai bukan peminum kopi, saya langsung menyukai minuman khas ini. Rasa kopi, susu, dan manisnya sama-sama tidak pekat.

Aceh kopi sanger
Kopi sanger ala Solong ini langsung jadi pemikat
kedai kopi Solong
Tamu-tamu undangan yang nyaris ‘sarap’ tampak bahagia usai sarapan

***

Tanah Aceh yang baru kali pertama saya sambangi ini mewujudkan diri dalam sosok ijo royo-royo. Udara segar dan langit jernih dengan kelembaban khas tropis menandakan jejak hujan semalam. Setelah berkendara sekitar 1 jam perjalanan dari Banda Aceh, tibalah kami di wilayah perbukitan. Greenland Jantho adalah salah satu area wisata yang berada di kota Jantho, ibukota kabupaten Aceh Besar di kaki Bukit Barisan.

Menjadi pembicara di hadapan 50 orang lebih peserta #AcehBloggerGathering dari berbagai komunitas adalah tantangan baru bagi saya, si pemalu & pendiam yang lebih banyak berkutat di belakang kamera. Saya dan Olive mendapat kesempatan pertama dengan dipandu oleh moderator Aulia. Jika Olive berbicara mengenai penulisan, maka saya berbagi mengenai fotografi perjalanan, terutama kiat-kiat praktis membuat sebuah foto terlihat lebih menarik berdasarkan pengalaman pribadi selama ini.

Jadi lupakan masalah apperture, diafragma, low speed, high key, dan masalah teknis lainnya yang tidak saya bahas pada kesempatan ini. Saya lebih mengedepankan komposisi, intuisi, dan imajinasi. Di luar dugaan saya bisa menyampaikan materi dengan lancar, berbeda pada saat membuat slide presentasi sehari sebelumnya dimana saya merasa lebih nervous. Oya, bagi kawan-kawan #AcehBloggerGathering mungkin tidak menyadari bahwa semua materi yang saya tampilkan di presentasi adalah foto-foto perjalanan saya meng-Explore Timor sebelumnya.

Kesempatan berbincang lebih jauh dengan para peserta (di forum ataupun sesudahnya) membuat saya merasa tersentuh. I felt a very welcome acceptance. Ada respect dan apresiasi di balik antusiasme mereka.

Greenland Jantho
Greenland Jantho yang baru dibuka kembali setelah sempat terbengkalai
Aceh Blogger Gathering session
Berbagi tentang fotografi perjalanan. Whoever captured this picture, I thank you very much 😉

***

Waktu makan memang saat yang tepat untuk mengakrabkan diri. Teman-teman baru saya dari Aceh ini mayoritas berkulit gelap dan berwajah persegi. Beberapa perempuan dikaruniai hidung bangir sementara lelakinya punya facial hair menarik, seperti alis lebat atau bulu mata lentik. Oh, dan mereka punya nafsu makan yang bagus, gemar menumpuk nasi dengan lauk pauk, dan kebanyakan makan menggunakan lima jari tanpa sendok.

Saya tak paham bahasa Aceh yang kerap mereka lontarkan, tapi saya selalu gemar mendapat perjamuan lisan seperti ini. Kuping saya mendengar intonasi yang sepatah-patah dan menyentak namun diucapkan dengan cepat. Nalar saya berusaha memahami apa yang dibicarakan, meski seringkali gagal. Tapi tiap kali mereka berbincang dengan saya atau Olive, cara mereka berbicara malah lebih santun dibanding karakter keras di wajah.

Bapak Reza Fahlevi, Kadisbudpar Aceh, pun berbicara dengan lembut kepada saya dan Olive sewaktu beliau hadir pada malam hari. Walau wajah beliau terlihat lelah tapi tetap menampakkan semangat ketika memberi sambutan kepada para peserta #AcehBloggerGathering. Dan kami sudah mendapatkan spirit itu melalui kegiatan hari ini.

Tapi saya dan Olive malah lupa untuk foto bersama beliau.

Acara hari ini ditutup dengan hiburan musik di tepi kolam renang. Rasa kantuk saya sejenak tertunda ketika rocker teman baru kami tampil di panggung dan membawakan beberapa buah lagu. Beberapa kali penonton ikut menyanyi bersama. Saya terpana melihat aksi si rocker dan sempat bergumam dalam hati: “I think I wanna have some dreadlocks too.”

Penampilan pamungkasnya adalah ketika ia melengkingkan bait andalan: “ROCKER JUGA MANUSIAAAAA!”

Kemudian hujan pun turun.

 

Disgiovery yours!

Seurieus Band
You rock, my friend!