7 Keunikan Kota Kuching yang Berbeza

KAMU harus ke Kuching!

Demikian doktrin seorang teman saya sejak 1 dekade lalu. Seperti halnya seorang Arian yang tak bisa didikte, saya malah lebih menaruh perhatian pada Kota Kinabalu (KK) di Sabah ketimbang Kuching di Sarawak. Beberapa tahun silam saya sempat dikontak sebuah agen perjalanan di KK untuk menjadi ambassador mereka di Indonesia, tapi kemudian proyek mangkrak tanpa saya sempat menginjakkan kaki di KK. Lalu tanpa diduga sebuah tugas liputan dari Sarawak Tourism Board akhirnya malah membawa saya ke kota Kuching.

Kuching sebagai bagian dari Malaysia Borneo ternyata memang berbeza dengan Malaysia Semenanjung. Contoh, selama 5 hari pusing-pusing di Kuching saya sama sekali tak melihat penampakan sosok India atau keturunannya (entah dimana mereka bersembunyi menghndari saya, hahaha!). Orang-orang lokal yang saya jumpai kebanyakan berdarah Dayak, dengan penamaan ala Barat seperti Joe, Kevin, Barbara, dll.

Baca juga: 5 Andalan Wisata Kuching, Gerbang Suaka Sarawak

kota kuching kuih lapis
Sajian khas kuih lapis, mirip kue lapis Surabaya hanya di Kuching ini tampilannya lebih berwarna-warni

Hal kecil lain yang saya amati adalah banyak penampakan pemuda lokal yang berjalan berdua bersama pria asing yang lebih tua. Generasi ‘lambe turah’ pasti gatal ingin komentar: “Itu kan sugar daddy-nya!” But NO, please buang itu tabiat men-cap orang seenak udel. Bisa jadi para kawula muda ini memang guide lokal yang bertugas mengantar turis asing. Perkara mereka main hati, bodi, atau apalah adalah BUKAN urusan kita. Paham, ya!

Berikut 7 keunikan kota Kuching yang kamu harus tahu!

1. Satu kota dua walikota

Kota Kuching terbagi atas dua area yakni Kuching Utara dan Kuching Selatan (dimana masing-masing wilayah dipimpin oleh walikota). Sewaktu saya tanya kenapa satu kota bisa dua walikota, pemandu saya bilang bahwa salah satunya untuk menjaga semangat kompetisi. Jadi tiap beberapa waktu kedua wilayah ini akan saling dibandingkan, misal dalam hal kebersihan, kesejahteran, keamanan, dll, yang mana akan memicu pihak yang ‘kalah’ untuk berbenah diri supaya ‘menang’ di penilaian selanjutnya.

Oh, kalian juga harus berkunjung ke gedung Dewan Bandaraya Kuching Utara (DBKU alias North Hall) dan gedung Majelis Bandaraya Kuching Selatan (MBKS alias South Hall) karena bentuk bangunan yang megah dan dapat menjadi landmark kota Kuching. Keduanya pun dilengkapi dengan taman bunga. Saya pribadi paling suka gedung DBKU karena letaknya di puncak bukit dengan bentuk bangunan mirip planetarium.

2. Banyak kucing di kota Kuching

Kota Kuching tentu tak lengkap tanpa sosok kucing. Tersebutlah Tugu Kucing (Cat Statue) yang terdiri atas patung kucing sekeluarga (ayah, ibu, dan anak-anaknya) walau tanpa pernikahan, berlokasi di dekat Kuching Waterfront dan jadi favorit wisatawan mengabadikan gambar. Ada pula Big White Cat, si kucing putih besar di gerbang masuk kawasan Pecinan yang sering berganti kostum tergantung event apa yang tengah berlangsung di kota Kuching. Ada pula Museum Kucing yang terletak di gedung DBKU (Dewan Bandaraya Kuching Utara) yang dipenuhi pernak-pernik serba kucing mulai dari lukisan, patung, manuskrip, diorama, bahkan cinderamata.

Mata kucing jadi minuman segar di sini. Apakah terbayang mata kucing yang diblender lalu diberi es serut dan perisa matcha? Bukan, bukan itu. Mata kucing yang dimaksud adalah minuman segar seperti teh hitam dengan buah longan. Bentuk buah longan yang bulat bening di antara air berwarna gelap mungkin yang menciptakan imaji mata kucing.

Uniknya, saya malah tak melihat penampakan kucing hidup yang sesungguhnya selama berada di Kuching (awalnya terbayang lanskap kota berhias kucing-kucing liar yang elok & jinak seperti di Istanbul). Pemandu saya bilang, kucing-kucing di Kuching kebanyakan hewan peliharaan yang hanya berada di dalam rumah. Entahlah, apakah kucing-kucing tak bertuan di kota ini juga dipelihara dalam sebuah penampungan khusus sehingga kota tampak steril.

kota kuching cat statue
Cat Statue menghadap ke area komersil Kuching Waterfront

3. Bersih dan ber-Bhinneka

Versi kecil Bhinneka Tunggal Ika saya dapati di kota Kuching ini. Berbagai macam suku mulai Dayak (Iban, Bidayuh, Orang Ulu, Melanau), Melayu, Cina dengan perbedaan agama & kepercayaan (beberapa suku Dayak malah masih ada yang menganut paham animisme) hingga bahasa tampak hidup berdampingan dengan damai. Kerukunan dalam keberagaman ini menjadikan kota Kuching juga dinobatkan sebagai City of Unity.

Kebersihan kota Kuching sendiri sudah diganjar penghargaan dari PBB, WHO, hingga AFHC (Alliance for Healthy Cities) yang menobatkannya sebagai salah satu kota tersehat di dunia. Kebersihan sebagian daripada iman tampak diaplikasikan betul tak hanya oleh satu pemeluk agama sahaja.

kota kuching taman museum
Taman nan resik di sisi jalan raya Sarawak State Museum, bikin kepingin guling-guling
kota kuching atlet dayung
Para atlet dayung (dari berbagai suku) tengah berlatih di sungai Sarawak yang bebas polusi

4. Tiada macet & bising

Gambaran sebuah kota besar adalah lalu lintas sibuk dengan bunyi klakson bersahutan. Kuching berbeza. Arus lalu lintas memang ramai lancar, namun seperti ada sesuatu yang hilang. Suasana tampak lebih senyap. Benar, sama sekali tak terdengar bunyi klakson di sini. Kabarnya pemerintah Kuching (atau Sarawak? CMIIW) memang menerapkan larangan membunyikan klakson kendaraan, dan menjadi satu-satunya di Malaysia yang memberlakukan hal tsb. Jalanan di kota Kuching sendiri relatif bebas macet. Antrean kendaraan (didominasi oleh kendaraan jenis city car) hanya tampak pada saat lampu merah di persimpangan jalan. Sepeda motor? Langka tuh, dan kebanyakan berupa sepeda motor bebek tua.

kota kuching street junction
Suasana jam pulang kantor di dekat Kuching Waterfront. Notice where the Cat Statue is?
kota kuching padang merdeka
Padang Merdeka adalah semacam alun-alun kota Kuching dimana kantor Sarawak Tourism Board berada

5. Tempat bertualang alam

Sewaktu mengikuti famtrip di Semarang saya sempat takjub karena bisa melakukan river tubing hingga motor crossing di area yang masih masuk dalam administratif kota. Tapi ternyata kota Kuching menawarkan lebih. Kau bisa melakukan kegiatan luar ruang seperti kayaking, jungle trekking, hingga mountain climbing di wilayah kota. Bahkan Taman Nasional Bako hingga Cagar Alam Semenggoh saja masih masuk dalam wilayah administratif kota Kuching. Pantas saja mereka perlu dua walikota karena ternyata cakupan areanya termasuk luas seluas harapan aku sama kamu… #ehgimana #abaikan 

Baca juga: #SemarangHebat Adventure to Carnival

kota kuching kayaking
Kayaking in Semadang River
kuching bako national park
Jungle trekking in Bako National Park

6. Pemakan paku-pakuan

Midin bukan nama orang, melainkan sejenis tumbuhan paku-pakuan hutan yang jadi santapan sehari-hari penduduk Kuching (dan Sarawak umumnya). Perbedaan utama antara midin dengan tumbuhan paku lainnya adalah berdaun jarang dan berwarna lebih gelap. Midin ini semacam tumbuhan khas Sarawak yang bahkan takkan kau temui di bagian lain Malaysia. Kemanapun bersantap di Kuching pasti tercantum midin dalam daftar menu. Ia biasa dimasak tumis dan punya rasa gurih manis dengan tekstur renyah. Saya bilang bercitarasa ‘hutan’.

Jangan lewatkan pula menyantap ikan terubok (Tenualosa toli) yang lazimnya diasinkan. Disantap dengan nasi putih panas, tumis midin, dan sambal belacan. Benar-benar paket lengkap kuliner khas Kuching.

kota kuching midin segar
Midin segar biasanya dibungkus dalam buket daun besar

7. Makam tua dimana-mana

Hal ini memang menarik bagi pelaku wisata minat khusus (biasanya mereka yang menikmati sentimentil sejarah atau penikmat energi metafisika). Kota-kota besar memang pasti mempunyai makam-makam tua, namun saya bisa menemukan peninggalan semacam ini dengan mudah tanpa susah payah di kota Kuching. Beberapa makam hanya ditancapi batu nisan tanpa tulisan, beberapa dibebat kain dalam warna tertentu, dan banyak batu nisan yang posisinya tak beraturan bagai habis diterjang angin ribut. Lain kali ke Kuching tampaknya saya akan mencari tahu lebih jauh mengenai makam-makam tua ini.

kota kuching makam tua
Tanpa diduga menemukan ‘harta karun’ di balik pagar halaman samping Sarawak State Museum
kota kuching makam tua
Sebuah komplek makam tua di pinggir jalan

Bagaimana, apakah kota Kuching sudah termasuk dalam bucket list kamu sekarang?

 

Disgiovery yours!

About the author

Travel Blogger
4 Responses
  1. Pas masih kecil dulu sering lihat peta, dari Negara Malaysia justru aku tertarik dengan “si Kucing” ini. Karena ketimbang Kuala Lumpur, nama Kuching jelas lebih menarik. Sayangnya memang tidak banyak yang menuliskan soal kota ini (atau aku yang belum deep research? hahaha).
    Kayaknya di Kucing ini waktu tidak berjalan secepat Jakarta atau Kuala Lumpur ya, Kak?

    1. Waktu kecil aku malah penasaran sama Pontianak ketimbang Kuching, karena konon Pontianak berasal dari kata kuntilanak. Maklum sejak kecil udah demen sama hal2 berbau misteri/legenda, hahaha !)

      Tapi terbukti Kuching memang menyenangkan, lebih rileks dibanding Jkt or KL!

  2. Saya hanya sejenak di Kuching tapi beberapa partikel hatiku rupanya tertinggal di sana. Baik lah, tak anggap saja itu adalah tabungan yang suatu saat akan menarikku kembali. Tulisan Kak Gio ini resmi membuat aku rindu Sarawak 🙂

Leave a Reply