5 Pesona Wisata Bengkulu (Puspa Langka Hingga Huruf Kaganga)

WISATA BENGKULU yang ada dalam wawasan saya dahulu hanya satu: daya tarik bunga bangkai (jangan sebut nama latinnya karena saya dulu kerap keliru, apakah Rafflesia arnoldii atau Amorphophallus titanum). Selebihnya nihil. Tak banyak sumber informasi umum yang dapat menggambarkan pesona Bengkulu. Ia bak bersembunyi sendiri di balik rangkaian Bukit Barisan. Di sana di pesisir barat daya Sumatera.

Masih di zaman lampau, pada periode Friendstersaurus ketika testimonial teman adalah hal yang menyenangkan, saya juga pernah mendapat teman dari Bengkulu. Dua orang sekaligus, berasal dari Curup, Kab. Rejang Lebong. Kulit putih/bersih, pipi merona, dan mata sipit, sama sekali jauh dari gambaran saya akan orang Sumatera umumnya. Sejak masa itu saya tahu ada satu yang spesial nun di pelosok Bengkulu sana. Setidaknya ada faktor human interest yang bisa jadi daya tarik.

Keberuntungan telah mengirim saya ke Bengkulu, menjejak kaki di bumi Rafflesia, menjumpai saya dengan bunga bangkai yang sebenarnya, menggoyang lidah dengan pendap dan udang masak tempoyak, menyesap harum kopi dan segar sari jeruk kalamansi, menggemuruhkan dada dengan hentak rampak dol, menggugah sisi romantisme akan kisah percintaan Soekarno & Fatmawati. Oh, dan juga telah mengantarkan saya ke tanah Curup, sebuah kota kecil sejuk penuh bunga dan ‘kembang’. Bengkulu dalam satu kali kunjungan sudah mampu membuat saya melihat potensi besar atraksi wisata di provinsi terkecil Sumatera ini.

wisata bengkulu rumah bung karno

Puspa Langka Bengkulu & Nasional

Rafflesia arnoldii jauh lebih dikenal semenjak saya kecil (mungkin karena penamaannya yang indah dan mudah dilafalkan). Bandingkan dengan Amorphophallus titanum (dimana beberapa orang mungkin akan merespon: ‘Apa itu? Baru dengar!’). Walaupun secara fisik mungkin bunga ini sudah familiar, khususnya bagi generasi 80an yang sempat memakai mata uang pecahan 500 Rupiah bergambar sang bunga bangkai. Ya betul, Amorphophallus titanum (alias Titan arum) adalah bunga bangkai yang sebenarnya (dengan aroma bangkai seutuhnya)!

Sementara Rafflesia arnoldii sendiri memegang rekor sebagai bunga terbesar dunia, sekaligus dinobatkan sebagai bunga Nasional bersanding dengan melati putih dan anggrek bulan. Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus titanum bisa dibilang sebagai tumbuhan endemik di wilayah Bengkulu yang sekaligus menjadi kebanggaan Nasional. Hanya di Bengkulu kau bisa mendapati bunga-bunga langka ini tumbuh di habitat alaminya di dalam hutan.

rafflesia arnoldii

Lebih lengkap tentang kedua tumbuhan ini silakan baca: Rafflesia arnoldii VS Amorphophallus titanum | Manakah Bunga Bangkai Sebenarnya?

Alam Raya Bengkulu

Bengkulu hampir mirip dengan Kerala. Bengkulu terletak di barat daya Sumatera, Kerala terletak di barat daya India. Bengkulu dibatasi samudera di pesisir barat dan terkurung pegunungan Bukit Barisan di sebelah timur, Kerala pun dibatasi samudera di pesisir barat dan terkurung pegunungan Western Ghats di sebelah timur. Faktor ini pula yang mungkin menyebabkan baik Bengkulu atau Kerala punya kondisi alam raya yang unik (atau mengisolasi gen leluhur oriental seperti pada sebagian besar penduduk Curup yang hidup permai di kota sejuk penuh bunga). Contoh lain, keempat jenis Rafflesia spp memilih bermukim di wilayah Bengkulu sahaja. Konon Rafflesia arnoldii hanya bisa tumbuh di hutan Bengkulu meski sudah pernah coba dikembangbiakkan di luar wilayahnya.

Pengemar wisata pantai/laut juga bisa menemukan atraksi menarik di sini. Pantai Panjang di dekat pusat kota Bengkulu mempunyai panjang pesisir hingga 7 km lebih. Bahkan agenda wisata tahunan Festival Bumi Rafflesia pun dipusatkan di Pantai Panjang ini. Ombak samudera tampak gigih menggempur pantai, meski beberapa di antaranya sudah bersahabat dengan para surfer (peselancar). Pulau Tikus bisa menjadi alternatif dekat kota. Pulau Enggano adalah alternatif lain bagi yang punya waktu luang lebih.

wisata bengkulu curupwisata bengkulu pantai panjang

Bencoolen Heritage

Peninggalan utama kolonial Inggris yang sempat menguasai Bengkulu (d/h British Bencoolen) selama 140 tahun salah satunya adalah Fort Marlborough. Saya pribadi menyukai kunjungan ke Fort Marlborough (salah satu benteng pertahanan terbesar di Asia) karena kaya akan nuansa historis dan juga bisa jadi setting fotografi menarik. Bayangkan bidang-bidang persegi dengan lansekap berundak-undak dan kombinasi warna rumput hijau, bata merah, dan kapur putih. Generasi masa kini menyebutnya Instagrammable.

Jangan lupakan rumah peninggalan Stamford Raffles nan megah (kini menjadi rumah dinas gubernur Bengkulu). Boleh megah rumah, boleh harum nama, namun Raffles pastilah bermuram durja mendapati keempat buah hatinya tewas oleh kolera dan dikebumikan di tanah Bengkulu (ini baru saya ketahui setelah mengikuti ‘wisata dadakan’ ke kawasan Makam Inggris bersama kak Olive, sang penjelajah kuburan).

Sebelum memproklamasikan kemerdekaan RI, Soekarno ternyata pernah diasingkan penjajah Belanda ke Bengkulu (1939-1942). Tak diduga tak dinyana, cintanya berlabuh pada seorang gadis jelita bernama Fatmawati (yang akhirnya kelak menjadi ibu negara dan turut berjasa menjahit bendera pusaka merah putih). Rumah kediaman Bung Karno dan juga ‘replika’ rumah kediaman Fatmawati yang letaknya tak terlalu jauh itu dapat menjadi obyek wisata sejarah romantis di Bengkulu.

wisata bengkulu fort marlborough wisata bengkulu fort marlborough

Seni Budaya Bengkulu

Adalah keliru jika kau kira di Bengkulu hanya ada pengaruh budaya Melayu. Tabot dan Dol adalah contoh keberagaman budaya Bengkulu yang pengaruhnya berasal dari India (konon dibawa para pendatang dari Madras & Bengal semasa zaman kolonial Inggris). Tabot sendiri berwujud kotak kayu tinggi semacam tiang gapura (kau bisa lihat perwujudannya di pintu gerbang bangunan-bangunan besar di Bengkulu), sementara dol adalah alat musik tabuh yang dipakai mengiringi. Ritual Tabot diselenggarakan tiap tanggal 1-10 Muharram. Atraksi rampak dol yang dipersembahkan kepada kami ketika berada di Fort Marlborough malah mencuri perhatian saya karena efek dinamisnya. Pada waktu itu saya berpikir jika bunyi tetabuhan ini mirip dengan musik tradisional di Kerala, belakangan saya baru tahu jika dol memang terpengaruh budaya India.

Besurek adalah semacam kain batik Bengkulu yang pengaruhnya kemungkinan besar dibawa oleh Sentot Alibasyah (panglima perang Pangeran Diponegoro) dalam masa pengasingannya di Bengkulu. Ciri khas besurek adalah motifnya yang terinspirasi aksara Arab (meski tanpa makna khusus dan sama sekali bukan penggalan ayat Qur’an sehingga aman untuk dikenakan siapa saja dimana saja). Bengkulu juga punya aksara khas yang disebut Kaganga.

wisata bengkulu dol wisata bengkulu besurek

Kuliner Bengkulu

Durian Bengkulu ialah salah satu yang termahsyur. Tempoyak (fermentasi durian) adalah salah satu unsur hidangan wajib di Bengkulu. Saya sempat mencoba udang masak tempoyak di RM Marola di pesisir Pantai Panjang. Enaknya unik, gurih-asam-manis, hard to explain, kau harus coba sendiri! Aneka hidangan dari durian (segar atau fermentasi) mungkin bisa jadi andalan Bengkulu dalam menarik minat pemburu wisata kuliner.

Ada pula pendap, semacam pepes yang terbungkus daun keladi, dan menjadi favorit Bung Karno semasa berada di Bengkulu. Minumannya ada kopi Bengkulu dan sari jeruk kalamansi.

wisata bengkulu kopi arabica

Ada banyak potensi wisata Bengkulu lainnya yang belum sempat kami eksplor. Tetapi semoga penggalan pengalaman saya di atas bisa memberi sedikit gambaran seperti apakah wisata Bengkulu sebenarnya. Jadi membaca Bengkulu kini sama sekali bukan seperti membaca peta buta. Sepakat, ya! 🙂

Disgiovery yours!

 

Leave a Reply