10 Kebiasaan Orang Kerala Yang Kamu Harus Tahu

Scroll this

JADI ketahuilah, sudah 2 tahun terakhir Disgiovery mendapat kunjungan rutin dari hasil pencarian kata kunci ‘orang Kerala‘. Tentunya dengan berbagai macam motif, entah keingintahuan semata, pertemanan, atau–ehm–percintaan.

Saya akui secara umum orang Kerala (atau biasa disebut Malayali atau Mallu) itu punya karakter menyenangkan. Lingkup pergaulan saya merambah ke India bagian selatan itu tatkala mengikuti trip Kerala Blog Express (2014). Lalu pada Trip of Wonders (2016) di Jakarta-Bali-Komodo mempertemukan saya dengan 2 orang Kerala lain yang kemudian jadi karib saya selama perjalanan. Masih di tahun yang sama, saya kembali dipertemukan dengan orang-orang Kerala Tourism dalam acara PATA Travel Mart di Jakarta.

Berdasarkan interaksi & pengalaman saya selama bergaul bersama mereka ditambah referensi dari sumber pustaka maya, maka inilah beberapa kebiasaan orang Kerala (yang sedikit banyak membentuk karakter mereka) yang perlu kamu ketahui. Beberapa ada yang patut ditiru, beberapa dienyahkan saja. Semoga bisa menambah wawasan. Catatan penting bagi yang sedang jatuh cinta pada orang Kerala (atau pada siapa saja): jangan buta!

Orang Kerala adalah pembaca setia

Memulai pagi dengan membaca surat kabar sudah menjadi semacam kewajiban. Koran favorit mereka adalah Manorama (dalam bahasa & aksara Malayalam). Jika sedang berada di luar Kerala, mereka akan mengunduh aplikasi yang bisa menyediakan berita terkini dari koran tsb. Tingkat melek huruf di Kerala termasuk yang tertinggi di seluruh India, bahkan di distrik Ernakulam mencapai 100%. Tak heran selama berada di Kerala saya selalu mendapati pemandangan bapak-bapak duduk rapi di halte bus sambil membaca surat kabar.

kerala newspapers
Bacaan tiap pagi selama di Kerala (suratkabar berbahasa Inggris)

Penyantap daging sapi

Di antara semua negara bagian di India, tampaknya hanya Kerala yang menghargai sapi sebagai… hidangan. Cita-cita saya sebelum bertolak ke Kerala adalah melihat sapi-sapi berkeliaran bebas di jalan, tapi tak disangka tak dinyana semua itu hanya berlaku di India belahan utara. Jalan-jalan di Kerala ternyata steril dari penampakan sapi, saya malah menemui mereka dalam wujud beef fry atau beef curry di menu buffet.

Kenapa bisa begitu, bukankah sapi dianggap suci oleh umat Hindu? Jadi begini, selain umat Hindu terdapat pula populasi Muslim & Kristen yang cukup besar di Kerala. Umat Hindu pun terbagi beberapa aliran, di antaranya ada yang membolehkan menyantap daging sapi. Jadi konsumsi daging sapi dianggap hal mayoritas dan lazim di sini (khususnya di wilayah Malabar, Kerala bagian utara). Meskipun demikian hidangan vegetarian tetap jadi pilihan sebagian penduduk. Intinya tak ada yang memaksa dan dipaksa.

kerala beef curry
Perbedaan wujud sapi di India (kiri) dan Kerala (kanan) [pic source: alittlebitofspice.com]

Penikmat manis

Makanan di Kerala memang cenderung manis, apalagi hidangan penutupnya. Kebanyakan terbuat dari tepung beras, minyak kelapa (atau santan), dan berlimpah gula. Hidangan vegetarian pun menyajikan semacam kue garing yang manisnya bak biang gula. Tak heran jika pemandu kami di Kerala sempat bilang bahwa penyakit umum di Kerala adalah diabetes.

Pantas teman Kerala saya sewaktu di Indonesia tampak selalu gelisah tiap usai makan. “Di sini tak lazim makan dessert, ya?” ujarnya sedikit kecewa tatkala melihat yang tersaji sebagai hidangan penutup hanya buah potong. Akhirnya ia selalu memesan kopi sebagai penutup, manis tentu saja. Untung ia tidak mencampur kopinya dengan minyak kelapa. Orang Kerala memang gemar menggunakan minyak kelapa di hampir semua hidangan, hingga ada seloroh bahwa jika kau mengendus aroma minyak kelapa di suatu tempat maka menandakan kehadiran Malayali di sekitar tempat tsb.

kerala sweet snack
Unnakai (kiri) dan chatti pathiri (kanan) adalah dua dari sekian banyak contoh kudapan manis di Kerala. Malayali juga masih memelihara tradisi minum teh peninggalan kolonial Inggris, tentu saja dengan sajian manis-manis.

Peminum miras

Malayali bisa jadi peminum nomor satu di India (meskipun tidak 100% masyarakatnya peminum, camkan itu!). Tapi tahukah kamu MIRAS TIDAK DIJUAL BEBAS di toko manapun di Kerala, kecuali di outlet Bevco yang sudah ditunjuk resmi oleh pemerintah. Outlet ini pun harus berada dalam radius minimal 200 meter dari sekolah atau kuil. Walau dikenal tak sabaran, tapi orang-orang Kerala akan berbaris dengan patuh di depan Bevco selama lebih dari satu jam demi sebotol brandy/rum. Masyarakat Kerala sendiri punya minuman alkohol tradisional yang disebut ‘toddy’ (arak palem/nira). Toddy sendiri tampaknya bisa dijual bebas dimanapun.

Beberapa hotel bintang 5 biasanya menyediakan minuman keras juga meski di bawah kontrol ketat. Lisensi untuk ini sungguh mahal & sulit didapat. Manager hotel dimana kami menginap terpaksa harus diciduk polisi karena ia kedapatan membawa miras di luar kuota lisensinya.

kerala drunk men
3 Mallu yang ditengarai usai menenggak toddy. Dengan ramah mereka say hi pada kami lalu cengengesan di pinggir jalan.

Penggemar emas

India menurut World Gold Council adalah pengkonsumsi emas terbanyak di dunia yakni sekitar 30%. Dari emas yang dikonsumsi sebanyak itu oleh India, sekitar 20%-nya dilahap oleh negara bagian Kerala. Kalah jauh Madura. Tak heran jika tagline Kerala God’s Own Country kerap dipelesetkan menjadi Gold’s Own Country.

Perempuan Kerala tampaknya paling berperan andil dalam konsumsi emas ini. Saya melihat kebanyakan mereka (mulai penari hingga tukang kebun) pasti memakai perhiasan emas dari kepala hingga kaki (meski saya kira beberapa di antara perhiasan ini mungkin hanya sepuhan).  Selain untuk perhiasan, emas ini (bersama barang berharga lainnya) juga biasanya digunakan sebagai persembahan kepada dewa-dewa. Kuil Sri Padmanabhaswamy di Thiruvananthapuram (ibukota Kerala) bahkan tercatat sebagai kuil termakmur di dunia dengan timbunan harta karun sedikitnya bernilai IDR 260.000.000.000.000 (ayo tebak berapa Rupiah ini? ;)) Info lebih detail ada di artikel Misteri Harta Karun di Kuil Sri Padmanabhaswamy.

kerala gold lovers
Emas, emas, emas!

Pencinta Mollywood

Industri film lokal di Kerala sudah mendapat tempat di wilayah penduduk berbahasa Malayalam ini (itulah kenapa disebut Mollywood). Jika Bollywood punya Shah Rukh Khan dan Aamir Khan, maka Mollywood punya Mohanlal & Mammootty. Film-film terbaik Mollywood di antaranya adalah Bangalore Days (kisah 3 sepupu yang merantau ke Bangalore), Ustad Hotel (tentang juru masak kekinian yang harus menyesuaikan diri dengan kakeknya yang konservatif), hingga Drishyam (seorang pria yang berusaha menyelamatkan keluarganya akibat tindak kejahatan yang tak disengaja).

Jangan pernah mendebat orang Kerala tentang Mohanlal ataupun Mammootty (keduanya bisa dibilang aktor besar baik dalam hal popularitas ataupun ukuran tubuh) kalau tak mau dibilang ‘menistakan’. Di sisi lain orang Kerala juga gemar berdebat tentang film apa saja. Sebut satu judul film populer kesukaanmu, maka dia akan menemukan kelemahan-kelemahan film tsb (tentu dari sudut pandang dirinya).

kerala mohanlal & mammootty
Shah Rukh Khan digambarkan menyanjung kedua seniornya, Mammootty dan Mohanlal (di tengah adalah Juhi Chawla). Mereka pernah tampil bersama dalam 1 film hit Mollywood berjudul Harikrishnans [pic source: Bollywoodlife.com]

Orang Kerala punya lidah polyglot

Sebagian besar orang Kerala (di daerah perkotaan) terbiasa berbicara dalam 3 bahasa: Malayalam (bahasa resmi Kerala), Inggris, dan dialek India lainnya (Hindi/Telugu/Tamil, dll). Meskipun demikian masyarakat pedesaan umumnya hanya bicara bahasa Malayalam saja. Logat Manglish (Malayali English, ini istilah saya sendiri, hahaha!) terdengar unik, seperti orang berkumur-kumur karena mereka terbiasa mengucapkan artikulasi kata dengan kecepatan cahaya. Tapi jangan kuatir, lama-lama pasti terbiasa! 🙂

Penulisan dalam bahasa Inggris pun mereka kerap salah eja. Coleslaw ditulis ‘cole slow’. Mashed potato ditulis ‘smashed potato’. Dan masih banyak lagi. Walau bisa jadi hiburan tersendiri, tapi saya sempat berpikir bahwa inilah bagian dari ‘kepercayaan diri’ orang India umumnya dan orang Kerala khususnya. Mereka tak takut salah, yang penting orang akan mengerti, lagipula pasti bakal ada yang memberi koreksi. Meskipun esoknya kadang terulang lagi kelucuan yang sama. Percaya diri, keras kepala, dan bebal orang Kerala memang beda tipis, hahaha!

kerala malayalam
Temukan kesalahan eja pada gambar di atas ! 😉

Pencandu lungi & mundu

Bukan, lungi & mundu ini bukan sejenis permen narkoba, tetapi sejenis kain tradisional yang banyak dipakai di Kerala. Lungi adalah sebutan lain untuk kain sarung, motifnya tak jauh beda dengan sarung di Indonesia. Mundu adalah sehelai kain tak berjahit, lazimnya berwarna krem dengan strip keemasan. Lungi & mundu ini lebih banyak dipakai lelaki Kerala (mungkin karena perempuan sudah punya kain sari sendiri). Seperti halnya memelihara kumis, tradisi memakai lungi/mundu ini pun mulai memudar di kalangan anak-anak muda.

Jika kita di Indonesia terbiasa memakai kain sarung terjulur sampai mata kaki, maka di Kerala mereka terbiasa mengangkat setengah kain ke atas hingga bagai mengenakan ‘celana rok’. Cara seperti ini memang lebih memudahkan mereka dalam beraktivitas. Jangan tanya apakah mereka memakai celana lagi di balik lungi/mundu itu, biarlah anda sendiri yang menemukan kejutannya. Hiyaaa!

kerala lungi dance
Mohanlal, SRK, dan Mammootty memperagakan ‘lungi dance’ [pic source: thequint.com]
kerala mundu
Mammootty memperagakan tutorial hijab mundu dalam salah satu filmnya [pic source pinterest.com]

Fashionable

Men in pink, why not? Abah-abah sampai mamang-mamang pakai baju pink banyak saya jumpai selama di Kerala. Jika sebagian kita menganggap merah muda sebagai warna feminin, sebagian lain menganggap sebagai warna cinta kasih/keberuntungan. Dressed to kill, why not? Pakaian keseharian lelaki Kerala biasanya kemeja dengan mundu putih/krem. Tampak elegan meski kebiasaan ini pun sudah mulai luntur di kalangan generasi muda Kerala kini. Ada banyak pula yang mengenakan pakaian dan lungi/mundu tabrak warna, ditambah penutup kepala dari lilitan kain.

Perempuan Kerala sendiri lebih banyak berkain sari dan berhias bling bling. Tapi kebanyakan mereka pemalu dan sungkan diambil gambarnya, berbeda dengan lelakinya yang tampak lebih luwes menghadapi kamera. Yang saya amati banyak perempuan Kerala yang tangannya ditumbuhi rambut-rambut halus dan wajahnya ‘berkumis tipis’. Saya tak tahu apakah ada hubungannya dengan anggapan setempat bahwa kecantikan alami perempuan Kerala terletak pada body hair-nya. Tampaknya usaha body wax tak bakal laku di sini.

kerala men in pink
Men in pink
kerala men in headwear
Mallu fashion warriors

Pemelihara kumis

Memelihara kumis (baplang) bagi lelaki Kerala termasuk tradisi Hindustan yang masih banyak ditemui di India bagian selatan. Kumis dianggap sebagai lambang kejantanan lelaki khususnya dalam menarik pasangan. Ibarat kata, makin tebal dan makin lebat kumis maka tampak makin unch unch. “Seumur hidup saya takkan pernah mencukurnya sampai habis!” tekad pemandu wisata saya di Kerala. “Oh well, kecuali ada yang mau bayar 1 juta dollar.” Yawla, saya juga mauk!

Tapi tahukah kamu, sebelum abad XVIII hanya lelaki dari kasta tinggi saja yang diperbolehkan memelihara kumis. Di sisi lain, generasi muda India kini lebih menyukai wajah klimis. Kumis baplang dianggap mencerminkan India lama yang korup, pemalas, kolot, dan karakter polisi jahat dalam film. Saya pernah menuliskan artikel bertajuk Demi Kumis Hindustan dalam buku Menghirup Dunia (Grasindo, 2015) dimana budaya kumis-mengumis ini dipaparkan lebih detail termasuk kaitannya dengan profesi pogonologist yakni mempelajari fitur rambut di wajah seseorang. Menarik, kan? Ayo cari & beli bukunya! 😉

kerala moustache
Parade kumis Kerala

Catatan: Sosok lelaki berkumis baplang sambil bersidekap yang muncul beberapa kali dalam foto di artikel ini adalah sosok anonymous yang saya temui di desa Kumarakom. Tanpa mengurangi rasa hormat, tak ada maksud menjadikannya lelucon, melainkan penampilannya saya anggap ideal mewakili sosok orang Kerala seperti yang terdeskripsi dalam artikel ini.

 

Disgiovery yours!

28 Comments

Submit a comment